Tampilkan postingan dengan label Renungan kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan kehidupan. Tampilkan semua postingan

Berbahagia karena Kebahagiaan Orang Lain

"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan (kalimat) yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan, bagi mereka azab yang keras dan rencana jahat mereka akan hancur." (QS Fathir [35]: 10)

Alangkah indahnya hidup ini sekiranya kita ditakdirkan memiliki hati yang selalu merasakan nikmat dan bahagia melihat kebaikan tersebar di muka bumi. Selalu merasakan nikmat dan lezat manakala kita sendiri juga berbuat kebaikan.

Bahkan, akan lebih indah lagi jika setiap desah nafas kita adalah cerninan rasa rindu untuk selalu melakukan aneka kebaikan. Rindu pula akan semakin banyaknya saudara-saudara kita yang ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam menyebarkan kebaikan.

Jika kebaikan telah tersebar, orang-orang yang semula kafir dan ingkar akan menjadi Muslim. Orang-orang yang semula munafik dan durjana menjadi bertaubat. Dan orang-orang yang semula fasik dan durhaka pun menjadi taat.

Ya, kita memang harus menginginkan sebanyak mungkin makhluk-makhluk Allah di muka bumi ini menjadi mulia. Orang-orang yang pernah menyakiti kita semoga diampuni dan dikaruniai petunjuk oleh Allah. Begitu pula orang-orang yang pernah tersakiti oleh kita, semoga Dia yang Maha Perkasa, mengangkat derajat kemuliaannya.

Bukankah Allah Azza wa Jalla telah berfirman, ”Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma\'ruf, mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah..." (OS Ali \'Imran [3]: 110).

Apa artinya? Ummat terbaik adalah ummat yang memiliki kesanggupan menata, menjaga, merawat dan mewaspadai qalbunya dengan sebaik-baiknya. Sehingga selalu bersih, lapang dan selamat dalam menjalani kehidupan ini. Sedangkan qalbu yang selamat—tidak bisa tidak—akan membuahkan kepekaan, yaitu peka terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

Kepekaan akan membuat dunia ini berubah menjadi samudera ilmu yang teramat luas. Dunia akan terang-benderang dan lapang karena cahaya ilmu yang telah dikaruniakan Allah. Apa yang dilihat, apa yang dirasakan, dan apa yang didengar dari aneka kejadian di bumi ini, Insya Allah tidakada yang disikapi dengan salah. Yakinlah, pada semua kejadian itu pasti Dia menebarkan ilmu yang tidak hanya membuat kita semakin arif dan bijak, tetapi juga untuk memiliki kesanggupan bersungguh-sungguh kepada-Nya.

Sekiranya bumi ini dihuni oleh lebih banyak lagi orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, niscaya dunia ini akan terasa semakin lapang, indah dan mengesankan. Orang-orang tiada lagi mencari kemuliaan dari tingginya pangkat dan kedudukan, melainkan semata-mata dari tingkat ma\'rifat, ketaatan dan kedekatan kepada-Nya semata.

Subhanallah. Mudah-mudahan kita digolongkan oleh Allah ke dalam golongan orang-orang yang mampu merasakan nikmatnya berbuat kebaikan dan merasa senang melihat tersebarnya kebaikan. Wallahualam.

Sumber : cybermq.com

10 Kiat Menjalin Persahabatan

1) Pilih orang yang mempunyai minat sama seperti ikhwah, supaya diri lebih mudah beradaptasi karena mempunyai persamaan. Tapi jangan menafikan orang yang sekilas tidak mempunyai persamaan diri. Ketahuilah, bersikap terbuka itu baik untuk ikhwah.

2) Ingatlah pada satu pedoman penting, yaitu berlaku baik terhadap orang lain, sebagaimana ikhwah ingin diperlakukan. Sekiranya ikhwah menghormati orang lain,orang lain akan menghormati diri juga.

3) Sadari bahwa tiada siapapun yang sempurna, setiap orang mempunyai sifat-sifat aneh dan lemah, sehingga menerima kelemahan antara satu sama lain bisa mempererat persahabatan.

4) Hargai pendapat satu sama lain.

5) Sadari bahwa kawan yang rapat sekalipun tidak dapat bersama 24 jam. Bina minat-minat yang lain dan jangan cemburu apabila sahabat ikhwah mempunyai minat-minat lain, dan berhasil dalam menggeluti bidang yang disenanginya.

6) Komunikasi sangat penting, seorang kawan tidak selamanya bisa membaca pikiran ikhwah. Sekiranya ada sesuatu yang mengganggu persahabatan kita, beritahulah.

7) Jangan biarkan faktor luaran seperti tekanan (stress) meregangkan persahabatan kita. Kawan yang baik akan membiarkan sahabat melepas perasaan kepada mereka, tetapi jangan hanya mempergunakan mereka untuk melepaskan perasaan. Sebagai balasan, ikhwah-ikhwah sepatutnya bersedia untuk mendengar keluhan mereka pula.

8) Belajar satu sama lain.

9) Jangan membicarakan keburukan-keburukannya di belakang ikhwah sahabat.

10) Pilih kata-kata dengan bijaksana karena ikhwah tidak bisa menariknya kembali.

cibermq.com

Silaturahmi, Sebuah Solusi

Menebar kasih sayang terhadap sesama melalui silaturahmi, subhanallah, akan terasa jauh lebih indah, lebih mengesankan, dan luar biasa hasilnya sekiranya kita berusaha sekuat-kuatnya untuk memiliki kemampuan muhasabah (menelisik diri), sehingga lebih mengenali siapa diri kita yang sebenarnya. Artinya, kalaulah kita hendak mengingat-ingat dan mencari-cari aib dan kejelekan, jangan sekali-kali tertuju kepada aib dan kejelekan orang lain karena sungguh teramat terbatas pandangan kita untuk mampu melakukannya.

Kalau mau kita lakukan, ingat-ingat dan selidikilah aib-aib dan kejelekan yang melumuri diri sendiri. Betapa akan kaget bahwa kita yang selama ini begitu gemar menilai orang lain jelek, ternyata diri sendiri malah jauh lebih busuk lagi! Sungguh akan malu sendiri ketika ternyata kita ini tak lebih dari seorang yang hina dan gemar mengumpul-ngumpul dosa dengan mata, tangan, mulut, hati, dan anggota tubuh lainnya.

Seorang ulama seperti Yunus bin `Ubaid saja pernah mengaku, "Sesungguhnya aku menemukan seratus pekerti yang baik, di mana tidak kulihat diriku sendiri memiliki satu pun di antaranya." Atau, seperti pernah dikatakan Muhammad bin Wasi`, "Andaikata dosa itu mempunyai bau, niscaya tak seorang pun yang mau duduk-duduk bersamaku!"

Rahasia silaturahmi

"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu" (Q.S. An-Nisaa: 1).

Sahabat, tahukah tentang sesuatu yang paling cepat dapat mendatangkan kebaikan ataupun sebaliknya, membuahkan kejahatan? "Sesuatu yang paling cepat dapat mendatangkan kebaikan," sabda Rasulullah saw., "adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebajikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan kejahatan ialah balasan (siksaan) orang yang berbuat jahat dan memutuskan hubungan kekeluargaan" (H.R. Ibnu Majah).

Berbicara tentang silaturahmi, kita tidak hanya membatasinya dengan sekadar saling bersalaman menyentuhkan tangan atau permohonan maaf. Akan tetapi, lebih jauh daripada itu kita harus berbicara yang hakiki, yakni tentang suatu kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia. Hal ini sesuai dengan asal kata dari "silaturahmi" itu sendiri, yakni shilat atau washl, yang berarti "menyambungkan" atau "menghimpun" dan ar-rahiim, yang berarti "kasih sayang".

Pengertian "menyambungkan" adalah suatu proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. "Menghimpun" biasanya mengandung makna dari sesuatu yang bercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang terputus" (H.R. Bukhari).

Oleh karena itu, adalah teramat penting bagi kita untuk tidak hanya merekayasa gerak-gerik tubuh di dalam bersilaturahmi tersebut, namun haruslah benar-benar bersungguh-sungguh menata hati agar kita mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih bermutu lagi daripada apa yang dilakukan orang terhadap kita.

Kalau orang berkunjung kepada kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang tinggi karena bisa jadi hal itu dilakukan karena kita merasa berutang. Akan tetapi, ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu dengan sengaja kita kunjungi walaupun harus menempuh jarak yang cukup jauh dan memakan waktu, maka inilah yang disebut silaturahmi. Apalagi kalau ada orang yang membenci kita, lalu kita upayakan untuk menemuinya. Padahal, jelas hak-hak kita pernah terambil atau hati kita sempat terlukai. Di sinilah kekuatan silaturahmi yang sebenarnya.

Pada suatu kesempatan Rasulullah saw. memberikan taushiyah kepada para sahabatnya. "Hendaknya kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah," demikian sabdanya. "Apakah yang dimaksud itu, ya Rasulullah?" tanya sahabat. Rasulullah kemudian bersabda lagi, "Yaitu, hendaknya kalian suka menghubungkan tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskan engkau, memberikan sesuatu (hadiah) kepada orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepada engkau, dan hendaknya engkau bersabar (jangan lekas marah) kepada orang yang menganggap engkau bodoh" (H.R. Al-Hakim).

Walhasil, betapa pentingnya bagi kita menyambungkan kasih sayang (silaturahmi) itu. Betapa tidak! Dengan kasih sayang yang tersambung kepada makhluk-makhluk Allah, maka insya Allah Dia akan menyayangi kita. Apabila Allah telah menyayangi kita, maka akan dahsyat sekali dampaknya bagi kita karena kita akan menjadi orang yang paling beruntung dunia dan akhirat.

Lihat saja bagimana seperseratus kasih sayang Allah yang dibagi-bagikan kepada bermiliar-miliar makhluk yang ada di dunia ini. Sampai-sampai induk ayam pun membela dan melindungi anak-anaknya. Orang tua kita yang notabene tidak pernah bisa kita balas kebaikannya, tetapi mereka senantiasa berusaha mencukupi kekurangan kita, memenuhi segala kebutuhan kita, membela di kala kita teraniaya, serta melindungi saat kita terancam. Mereka pun dengan sepenuh kasih sayang menuntun agar anak-anaknya tidak tergelincir ke jalan yang salah dan menerangi agar anak-anaknya tidak tersesat walaupun harus bersimbah peluh berkuah darah.

Demikianlah seperseratus kasih sayang Allah yang ditebarkan dan dibagi-bagikan kepada makhluk-makhluk yang ada di bumi ini, sudah sedemikian dahsyatnya. Apalagi Allah yang Mahasempurna dan Mahautuh kasih sayang-Nya. Allah Mahatahu akan segala kebutuhan, harapan, dan keinginan kita. Bahkan Allah pemilik segala apa yang kita inginkan. Allah penentu segala kejadian yang terbaik bagi dunia maupun akhirat kita. Allah tahu persis segala sesuatu yang akan mencelakakan diri kita. Allah pun tahu persis segala sesuatu yang akan membinasakan dunia akhirat kita.

Allah Mahagagah, pelindung yang Mahasempurna. Jikalau Dia berkehendak melindungi seorang makhluk-Nya, tidak ada satu pun yang bisa menganiayanya, kendatipun bergabung seisi alam semesta ini untuk melakukan sesuatu. Begitu pun kalau Allah akan memberi karunia kepada makhluk-Nya, tidak akan pernah terhalangi walaupun seluruh jin dan manusia bergabung untuk menghalanginya. Pendek kata, orang yang dikasih-sayangi oleh Allah, sempurnalah kebahagiaannya. Semua kebutuhan tercukupi, kesulitan akan diberi jalan keluar, bahkan akan dibela dari segala yang mengancamnya dengan pembelaan yang pasti sangat memuaskan.

Kata-kata ini terlalu ringkas untuk bisa menguraikan bagaimana dahsyatnya kasih sayang Allah. Terbukti kendati sampai saat ini berlumur dosa, bergelimang maksiat, dan kurang bersyukur, ternyata Allah toh tetap saja memberikan segalanya. Tubuh dinormalkan, dididik, diberi rezeki, diberi tempat tinggal, dan aib-aib kita pun ditutupi-Nya. Padahal, Allah tidak membutuhkan kita sama sekali. Kendati kita telah berlumur kehinaan dan kemaksiatan, ternyata tidak terhalang kasih sayang-Nya yang senantiasa menanti kita kembali kepada-Nya. Allaahu akbar!

Jadi, silaturahmi yang kita laksanakan benar-benar bukan karena mengharapkan imbalan dari makhluk-makhluk, bukan karena berharap pujian dan penghargaan, juga bukan karena mendambakan mereka agar menyambungkan tali silaturahmi sebagaimana yang telah kita lakukan. Sama sekali bukanlah semua itu yang kita dambakan, melainkan semua ini kita lakukan semata-mata agar kita semakin disayangi oleh Allah Azza wa Jalla! Zat yang Mahaagung, Mahasempurna, Mahahebat, Mahasuci, dan Mahamulia.

Sungguh, Mahabenar Allah dengan firman-Nya, "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu" (Q.S. An-Nisaa: 1).

CiberMQ.com

Kehebatan Sholat Jamaah Isya’ dan Subuh

Setiap sholat fardhu yang dikerjakan dengan berjamaah mempunyai kelebihan duapuluh tujuh derajat lebih daripada sholat fardhu dikerjakan munfarid(sendirian). Lebih dari itu, apabila sholat Isya’ dan Subuh dikerjakan dengan berjamaah akan dinilai oleh Alloh seperti orang yang mengerjakan ibadah semalam suntuk. Dalam suatu riwayat diterangkan sebagai berikut:

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Bisyru bin Assariyyi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari ‘Utsman bin Hakim, dari ‘Abdirrahman bin Abi ‘Amroh, dari Utsman bin ‘Affan, dia berkata: Rosululloh bersabda “Barangsiapa mengerjakan sholat Isya’ dengan berjamaah adalah baginya seperti mengerjakan ibadah seperdua malam, dan barangsiapa sholat Isya’ dan Subuh dengan berjamaah adalah baginya seperti mengerjakan ibadah semalam suntuk”(H.R. Tirmidzi: Jilid 1, halaman 433, nomor hadistnya 221 pada baris 4-7 dalam ‘Babu ma ja-a fie fadllil ‘Isya-I wal fajri fil jama’ati)

Keterangan:

Biasanya orang dari waktu maghrib dan subuh berada di rumah setelah siang harinya bekerja ditempat bekerjanya masing-masing. Biasanya sholat Dzuhur dan bahkan mungkin sholat ’Ashar dikerjakan di tempat bekerja atau di perjalanan. Nah, selama tiga waktu sholat Maghrib, ’Isya dan Subuh itu yang biasanya dikerjakan dengan jamaah hanyalah sholat Maghrib saja. Hal ini karena kurang mengertinya kehebatan nilai sholat jamaah ’Isya dan Subuh sehingga tidak tumbuh di hati niatan yang kuat untuk sholat jamaah ’Isya dan Subuh.

Sabda Nabi tersebut diatas menunjukkan kepada kita bahwa sholat ’Isya dan Subuh itu apabila dikerjakan dengan berjamaah walaupun hanya dua orang, maka dinilai oleh Alloh seperti orang yang mengerjakan ibadah semalam suntuk.

Don`t Cry..!!! Ketika Mencintai Tak Bisa Menikahi

Sungguh, merupakan hal yang sangat menyakitkan hati. Ketika cinta kita ditolak oleh seseorang yang sangat kita harapkan cintanya. Sebahagaian dari kita mungkin akan langsung berfikir sepertinya Allah tidak adil. Langit terasa muram dan tidak bercahaya. Bukankah cinta kita benar-benar tulus dan murni. Untuk menjaga diri dari dosa, menjaga pandangan, menjaga hati, bahkan demi menjaga kesucian agama-Nya?

Apa yang salah pada diri kita?

Tidak layakkah kita mendapatkan janji-Nya, “Jika kamu menolong agama (Allah), niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7).

Begitu mahalkah tiket untuk mendapatkan pertolongan-Nya, lantas di manakah janji-Nya, “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min : 60).

Ya, sebenarnya faktor yang paling utama mengapa keinginanmu belum dikabulkan, padahal usia sudah waktunya, tujuan sudah mulia, bahkan mungkin kemampuan sudah ada. Hanya satu faktor penyebabnya. Yaitu perbedaan persepsi antara kita dan Allah. Kita sering kali menganggap bahwasannya apa-apa yang sesuai dengan keinginan kita itulah yang terbaik bagi kita, padahal tidak selamanya (QS. Al-Baqarah : 216). Dari ayat tersebut, kita tahu bahwa ada hikmah di balik setiap kejadian apa pun yang menimpa kita, ada kebaikan di balik sesuatu yang kita anggap buruk, demikian pula sebaliknya.

Agaknya tidak ada salahnya jika kita sedikit mendengar penuturan Ibnu Al-Jauzy yang mengajarkan, “Jika anda tidak mampu menangkap hikmah, bukan karena hikmah itu tidak ada, namun semua itu akibat kelemahan daya ingat anda sendiri. Anda kemudian harus tahu bahwa para raja pun memiliki rahasia yang tidak diketahui setiap orang. Bagaimana mungkin anda dengan segala kelemahan anda akan sanggup mengungkap sebuah hikmah?”

Betapa pun berat sebuah ujian yang kita alami, pasti akan ada jalan keluarnya. Allah menyatakan, “Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.” (QS. Al-An’am : 152). Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan baginya keperluannya.” (QS. At-Thalaq : 2-3).

Yakinilah bahwa kegagalan cinta yang kita alami, tertolaknya cinta yang kita ajukan, sudah dirancang sedemikian rupa skenarionya oleh Allah. Sehingga tidak perlu menyikapinya secara berlebihan. Daripada kita larut dalam kesedihan, menangis, menyesali diri, patah hati, atau bunuh diri. Lebih baik kita berbaik sangka saja kepada Allah. Tidak pantas diri ini mengeluh apalagi menyesali sebuah kegagalan. Bersikaplah positif ke depan. Yakinlah bahwasannya kegagalan cinta bukanlah akhir dari segalanya, bukanlah awal dari sebuah kehancuran.

Sejarah mencatat, banyak sekali pribadi-pribadi sukses di dunia ini yang mengawali kesuksesannya setelah ditimpa berkali-kali gagal dalam usaha mereka, begitu juga tentang urusan cinta. Sebagai manusia, kita dibekali potensi yang sedemikian hebatnya oleh Allah. Dan terkadang potensi yang ada pada diri kita justru baru kita ketahui setelah kita menghadapi beberapa kali kegagalan.

Aa Gym pernah mengatakan, “Jika nasi sudah menjadi bubur, maka kita harus mulai memikirkan ayam, cakwe, seledri, bawang goreng, dan sambel, sehingga bubur kita akan menjadi bubur ayam yang spesial.” Karena itu, satu orang yang menolak cinta kita seharusnya tidak menjadikan kita lupa pada puluhan bahkan ratusan orang lain yang menyayangi kita. Namun justru seharusnya menjadi cambuk bagi diri kita untuk menjadi lebih baik.

***

Ayo Terus Perbaiki Kekurangan Diri

Mungkin kita merasa bahwa kita sudah siap dan mampu, kita merasa bahwa kita baik hati, tidak sombong, berasal dari keluarga baik-baik, punya ilmu agama yang cukup memadai, pribadi oke, wajah pun tidak mengecewakan. Tapi mengapa dia masih tidak bersedia? Kriteria seperti apa lagi yang dia dambakan? Sekali lagi, cinta tidak bisa dipaksakan, mungkin ada beberapa kriteria lain yang belum kita miliki, yaitu kriteria yang baginya adalah paling prioritas di antara kriteria lainnya dan hal itu merupakan daya tarik tersendiri bagi dirinya.

Kalau sudah begitu, mari kita jadikan momen penolakan tersebut sebagai momen kita untuk mencari tahu dan memperbaiki terus kekurangan-kekurangan kita. Sekali ditolak, berarti satu perubahan ke arah yang lebih baik, dua kali ditolak, dua perubahan, sehingga pada akhirnya, ketika Allah mengirimkan seseorang yang terbaik menurut-Nya kepada kita, orang tersebut akan terpana dan berkata “Waaahh… istri/suamiku ternyata keren sekaliii.”

Ingat, kita harus selalu berusaha memperbaiki kekurangan diri, menjadikan setiap kegagalan sebagai batu loncatan ke arah kesuksesan, melecutkan kemampuan, membangun potensi yang selama ini terpendam, memacu semangat dalam diri. Seorang pemenang tidak dilahirkan, tetapi harus diciptakan.

Menjadi penguasa diri

Adalah sebuah kerugian bagi orang yang diberikan jabatan atau kekuasaan tanpa bisa menguasai diri. Kedudukan dan jabatan yang disandang, bukannya menambah kehormatan dirinya, malah menjadi penyebab kehinaan. Begitu pun dengan kekuasaan yang dimiliki, akan berbuah bencana bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, sebuah keniscayaan bagi kita agar dapat menjadi penguasa atas diri. Menjadi penguasa yang bisa mengendalikan diri dari segala perilaku yang tidak sesuai dengan kehendak sang penguasa alam raya ini, yaitu Allah SWT.


Jabatan dan kekuasaan seseorang bukanlah ukuran bahwa orang itu terhormat. Kedudukan tidak identik dengan kemuliaan. Allah memuliakan dan menghinakan siapapun yang dikehendaki-Nya. Kekuasaan, kedudukan dan jabatan tidak ada artinya jika disalahgunakan. Pejabat yang menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, pada akhirnya akan menuai kehinaan. Bahkan kehinaan tersebut bisa menjadi aib bagi keluarga atau masyarakat di sekitarnya.


Contoh lain adalah perlakuan tentara sebuah negara penjajah terhadap tawanan perang. Mereka memperlakukan tawanan perang tersebut dengan keji, layaknya binatang. Itu artinya sama dengan menghinakan makhluk Allah. Perlakuan beberapa tentara tersebut, telah memicu demonstrasi besar-besaran di berbagai negara. Tidak jarang dalam demonstrasinya, para demonstran mengecam dan menghina negara penjajah tersebut dengan keras. Ulah sebagian kecil tentara yang tidak dapat mengendalikan dirinya telah menyebabkan negaranya ikut terhina.


Hikmah terpenting yang bisa kita ambil dari kejadian ini, adalah pentingnya pengendalian diri dalam berbagai situasi dan kondisi. Sebab, sangat mudah bagi Allah memuliakan dan menghinakan hamba-Nya. Sebagaimana difirmankan-Nya, “Katakanlah, wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 26)


Sesungguhnya kekuasaan ada dalam genggaman Allah SWT. Siapapun yang ingin sukses menjadi penguasa maka haruslah terlebih dahulu dapat menguasai dirinya sendiri. Jika tidak bisa menguasai dirinya, maka kekuasaan, jabatan dan kedudukannya itu akan jatuh karena terlalu memperturutkan hawa nafsu dan syahwatnya.
Saudaraku, sebagai seorang muslim, kita haruslah bisa mengendalikan penglihatan, pendengaran dan pembicaraan. Juga tidak kalah pentingnya adalah mengendalikan hati. Karena hatilah yang mengendalikan mata, telinga dan mulut kita. Dengan mengendalikan hati, kita bisa menilai sesuatu dengan jernih, bisa mengendalikan organ tubuh sesuai dengan syariat-Nya. Dengan hati yang terkendali, kita bisa mengendalikan gejolak asmara (cinta) yang membuat kita buta terhadap kebenaran. Sehingga bisa menghindari jebakan maut syaithan. Karenanya, jadilah penguasa atas diri sendiri. Menjadi penguasa diri adalah cermin mukmin sejati. Wallahu a’lam bishawab.

CiberMQ.com

Template by : kendhin x-template.blogspot.com